MAKALAH
ILMU
PENGETAHUAN DALAM PERSFEKTIF SOSIOLOGI
Di Ajukan Untuk Memenuhi
Tugas Semester V (Lima)
Mata Kuliah Sosiologi
Pedidikan
Dosen Pembimbing
Mahmud Berutu, M.Pd
Disusun Oleh :
SUMMA WARDAYA MUSI
RISKA SAPTIYAH
RONI EFRIKA
REDA WATI
ABDUL RAHMAN
Kelompok : IV
![]() |
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
SYEKH ABDUR RAUF
(STAISAR)
ACEH SINGKIL
2014/2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya
sosiologi pendidikan merupakan cabang ilmu sosiologi atau yang dikategorikan
sebagai sosiologi mikro. Sebagai ilmu sosial yang mempelajari hubungan
pendidikan dengan masyarakat, sosiologi pendidikan pun sebagai mana ilmu
pengetahuan lainnya, dipandang memiliki konstribusi signifikan dalam
pengembangan ilmu pengetahuan.[1]
Pendidikan membutuhkan ilmu pengetahuan sosial yang akan membantu dalam
perkembangan dan kemampuan dari peserta didik dan juga menuju kedalam tujuan
pendidikan itu sendiri.
Pendidikan
sosial adalah proses pembinaan kesadaran sosial, sikap sosial dan keterampilan
sosial agar anak hidup baik serta wajar di tengah-tengah lingkungan
masyratakatnya. Pendidikan berperan penting dalam mennetukan posisi sebuah
bangsa di tengah era globalisasi saat
ini. Pendidikan yang berkualitas menjadi kunci peningkatan kualitas sumber daya
manusia yang akan menghantarkan suatu bangsa pada kemajuan. Peningkatan
kualitas pendiidkan perlu diupayakan agar tidak semakin tertinggal. Maka,
peningkatan mutu pendidikan perlu diyinjau dari berbagai aspek demi tercapainya
sistem pendidikan yang efektif dan berkualitas. Salah satu perspektif yang
perlu diperhatikan dalam rangka menciptakan sistem pendidikan yang ideal dan sesuai
dengan karakter bangsa adalah perspektif sosiologi.
B. Rumusan Masalah
Untuk mempermudah menyelesaikan makalh ini
penulis telah menyusun beberapa rumusan masalah yang diantaranya adalah:
1. Bagaimanakah perspektif pendidikan dalam
sosiologi?
2. Apa sajakah fungsi sosiologi dalam ilmu
pengetahuan?
3. Bagaimanakah landasan yang harus dikembangkan
untuk sosiologi pendidikan!
C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui bagaimana persfektif ilmu
pengetahuan dalam sosiologi pendidikan;
2. Untuk mengetahui fungsi apa saja yang dapat di
hasilkan dalam ilmu pendidikan;
3. Mengetahui apa saja yang menjadi landasan ilmu
pengetahuan dalam sosiologi .
BAB II
PEMBAHASAN
ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI
A. Ilmu pengetahuan dalam sosiologi
Sosiologi merupakan cabang ilmu sosial yang mengkaji
hubungan antara manusia dengan sesamanya dalam masyarakat. Analisis sosiologi
meliputi proses interaksi sosial yang terkait dengan kehidupan sosio-kultur
masyrakat maupun pada tingkat nasional.
Dalam pendidikan sosial banyak yang harus
dipahami dan dimengerti agar untuk kelangsungan hidup yang baik menuju
kerukunan dan keridhan Allah SWT. sebagaimana dalam firman-Nya surat Ali-‘Imran
: 114:
يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلۡخَيۡرَٲتِ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ
Artinya: “ mereka beriman kepada
Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah
yang munkar dan bersegeralah kepada (mengerjakan) berbagai kebajikan; mereka
itu termasuk orang-orang yang saleh.[2]
Maksud ayat diatas adalah ditujukan untuk orang
yang bukan Islam, namun dapat diambil pelajaran / pendidikan bagi seorang
muslim. Dalam hidup ini bukan hanya orang Islam yang wajib melkukan kebaikan
namun para ahli kitab yang berpegang teguh pada kebenaran, menegakkan keadilan,
bersujud dimalam hari, mereka juga beriman kepada Allah. Memerintahkan yang
baik dan menjauhi yang buruk[3]
Sehubungan dengan sosial pendidikan terdapat beberappa
hadits yang dapat dijelaskan yaitu:
Dari Abu Musa, Nabi Saw. bersabda,”sesungguhnya seorang
mukmin bagi mukmin yang lain laksana satu bangunan, sebagiannya menguatkan
sebagian yang lain.” Beliau pun masukkan jari-jari tangannya satu sama lain. (HR. Al – Bukhari)[4]
Pendidikan dalam perspektif sosiologi dapat menghasilkan
sebuah gambaran objektif tentang relasi-relasi sosial yang menyusun kontruksi total
relaitas pendidikan di negri ini. Maka, segala bentuk wawasan dan pengetahuan
sosiologi untuk membedah tubuh penddikan menjadi perlu untuk dibahas agar
proses-proses pengajaran tidak bisa kearah yang kurang relevan dengan kebutuhan
bangsa.
Untuk mengetahui sesuatu dimasyarakat sebaiknya dimulai
dengan membuat asumsi tentang sifat-sifat objek yang akan dipelajari. Asumsi
ini disebut persfektif atau paradigma, yaitu suatu cara pandang atau cara
memahami gejala tertentu menurut keyakinan masing-masing di dalam sosiologi
terdapt beberapa persfektif , yaitu sebagi berikut:
1. Perspektif interaksionis
Memusatkan perhatian terhadap interaksi antara individu
dengan kelompok, terutama dengan menggunakan sibol-simbol antara lain isyarat,
dan kata—kata baik lisan maupun tulisan.
2. Perspektif evolusionis
Paradigma utama dalam sosiologi yang memusatkan perhatian
pada pola perubahan dan perkembangan yang muncul dalam masyarakat yang berbeda untuk megetahui urutan umum yang ada.
3. Perspektif fungsional
Malihat masyarakat sebagai suatu jaringan kelompok yang
bekerja sama secara terorganisir da memliki seperangkat aturan dan nilai
kelompok atau lambaga yang melaksanakan tugas tertentu secara terus menerus
sesuai dengan fungsinya yang dianut oleh sebagian besar anggotanya. Masyarakat
dipandang sebagai sesuatu yang stabil dengan kecendrungan ke arah keseimbangan,
yaitu untuk mempertahankan sistem kerja yang selaras dan seimbang.
4. Perspektif konflik
Memandang adanya pertentangan antar kelas dan eksloitasi
kelas di dalam masyarakat sebagai penggerak utama kekuatan-kekuatan dalam
sejarah.
خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَـٰهِلِينَ
”Jadilah engkau pemaaf dan serukanlah orang-orang
mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang – orang bodoh.”(Q.S. Al- A;raf: 199)[5]
Dapat kita ambil kesimpulan dalam ayat diatas yaitu
tentang akhlak yang baik, yang menjadi dasar bagi seorang muslim untuk bersikap
dalam lingkungan sehari-hari baik dalam keluarga ataupun masyarakat.
Ilmu pengetahuan dibagi atas dua kelompok besar, yakni
kelompok ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan kelompok ilmu-ilmu alam secara
khusus mempelajari fenomena fisik, meliputi anatraa fisika, kimia , biologi,
astronomi, dan geologi. Sedangkan ilmu-ilmu sosial mempelajari fenomena non
fidik yakni segala sesuatu yang berhubungan dengan perilku manusia.
Manusia adalah makhluk sosial, ia tidak mampu hidup
sendiri. Dalam berbagai hal, manusia membutuhkan bantuan orang lain. Oleh
sebabitu, manusia harus hidup secara sosial. Ia yidak boleh mementigkan diri
sendiri. Untuk itu Rasulullah mendidik
umatnya agar menjadi makhluk sosial dengan metode ganjaran atau inovasi yang
besar, sebagai mana dalam sabdanya:
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,
“ siapa yang melapangkan seorang mukmin dari satu kesulitan dunia, Allah akan
melapangkaannya dari kesulitan hari kiamat. Siapa yang memudahkan dari satu
kesulitan, Allah akan memudahkannya dari kesulitan didunia dan diakhirat. Siapa
yang menutup aib seorang muslim, Allah akan menutup aibnya didunia dan
diakhirat. Allah selalu menolong hamba_Nya selama hambanya itu menolong
saudaranya.”(HR. Muslim)[6]
Sosiologi Emile Durkheim memandang pendiidikan sebagai
“social thing” atau disebut dengan ikhtiar sosial. Menurut Durkheim, masyarakat
secara keseluruhan beserta masing-masing lingkungan sosial di dalamnya
merupakan sumber cita-cita ynag dilaksanakan lembaga pendidikan. Suatu
masyarakat bisa bertahan hidup hanya kalau terdapat tingkat homogenitas yang
memadai dikalangan warganya.
Keseragaman esensial yang dituntut dalam kehidupan
bersama tersebut oleh upaya pendidikan diperkenalkan dan doperkuat penanamannya
sejak dini dikalangan anak-anak. Tetapi, di balik itu, suatu kerjasama apapun
tentunya tidak mungkin tanpa adanya keanekaragaman. Keanekaragaman yang penting
tersebut, oelh pendidikan dijamin dengan pelaksanaan pendidikan yang
beranekaragam, baik dalam jenjang maupun spesialisnya.
Berawal dari pandangannya bahwa pendidikan sebagai
“sosial thing”, Durkheim mengungkapkan bahwa pendidikan itu bukanlah suatu
bentuk dalam arti ideal maupun akyualnya, tetapi bermacam-macam. Seberapa
banyak macam yang dimaksud mengikuti banyaknya perbedaan lingkungan di kalangan
masyarakat itu sendiri. Dengan demikian akan mennetukan tipe-tipe pendidikan
yang diselenggarakan.
Pendidikan merupakan alat untuk mengembangkan kesadran
diri sendiri dan kesadaran sosial
menjadi paduan yang stabil, disiplin, dan utuh secara bermakna.
Penyelaman dan pencernaan nilai-nilai dan disiplin oleh Durkheim dianggap
sebagai syarat inisiasi anak terhadap masyarakat. Pendidikan beperan penting dalam
menjada nilai=nilai moral yang menjadi landansan bagi tumbuh kembang
masyarakat.
Sasaran pendidikan adalah mengembangkan kekuatan fisik,
intelektual, dan moral yang dibutuhkan oleh lingkungan masyarakat. Pendidikan
dipersepsikan oleh Durkhein sebagai satu kesatuan utuh dari masyarakat dari
keseluruhan. Pendidikan sebagai daasar masyarakat menentukan proses alikasi dan
distribusi sumber-sumber perubahan. Pendidikan juga berfungsi sebgai “baby
sitting” yang bertugas agar warga masyarakat tidak ada yang memiliki perilaku
menyimpang. Untuk mengemas pendidikan agar menjalankan fungsi tadi harus
diterapkan orioritas yang tepat. Pendidkan harus bisa memaksimalkan bakat
siswa. Pendidikan juga harus didekatkan pada msyarakat luas.
B. Fungsi Pendidikan Dalam Perspektif Sosiologi
Pendidikan memiliki fungsi yang dapat dipahami dalam
soiologi hubungan masyarakat, yaitu:
1. Memperkuat solidaritas sosial; membuat
individu merasa menjadi bagian dari kelompok dan dengan demikian akan
mengurangi kecendrungan untuk melanggar aturan.
2. Mempertahankan peranan sosial; sekolah adalah
masyarakat dalam bentuk miniature. Sekolah mempunyai hierarki, aturan,
tuntutan, yang sama dengan “dunia luar”. Sekolah mendidik orang muda memenuhi
derbagai peranan.
3. Mempertahankan pembagian kerja; membagi-bagi
siswa ke dalam kelompok-kelompok kecakapan. Lengajar siswa untuk mencari
pekerjaan sesuai dengan kecakapan mereeka.
Perspektif
sosiologi sebagai pisau bedah dalam menganalisa pendidikan sangat bermanfaat
bagi perbaikan berbagai permasalahan pendidikan yang kini menjadi tantangan
besar bangsa Indonesia. Kajian dan analisis terhadap keterkaitan fenomena sosial
dalam proses pendidikan penting untuk diketahui, di informasikan dan digunakan
dalam pengambilan keputusan, kebijakan maupun stategi dalam praktik pendidikan
terkait dengan fungsi sosiologi pendidikan yaitu menyediakan visi, pemahaman
dan kemampuan terhadap proses pendidikan, dan kemampuan bekerja dalam
pendidikan dengan memanfaatkan dinamika struktural dan proses sosial terkait
dengan proses pendidikan, dikarenakan kehidupan sosial baik dalam yang besar
terhadap proses dan hasil –hasil pendidikan.
C. Landasan Konsep Dan Teori Sosial Dalam
Pendidikan
Pengembangan pendiidkan seharusnya dilandasi konsep dan
teori sosial, karena untuk dapat meliaht
perkembangan sosial pendidikan. Alasannya:
1. Pendidikan mau tidak mau harus bisa menyiapkan
sebuah generasi yang siap memasuki masyarakat yang berubah menuju masyarkat
berbasisi pengetahuan.
2. Pratisi pendidikan dapat merumuskan cara
menetapkan orientasi yang relevan dengan dunia yang berubah di satu puhak, namun dilain pihak dunia pendidikan tidak
mengalami distorsi dan disorientasi.
3. Pendidikan memerlukan perangkat pisau analisa
sosiologi, karena ia bukan sekedar mesin atau teknologi pembelajaran ansich.
Dengan bantuan
perspektif sosiologis, sekolah dan guru akan dapat memahami lingkungan sosial,
proses-proses sosial seperti terjadiny akonflik, integrasi, pelapisan dan
proses sosialisasi. Sosiologi akan membantu menungkatkan kepekaan budaya
sehingga memungkinkan praktisi pendidikan mampu mengelola pembelajaran berbasis
multukultural, melakukan antisipasi terhadap dampak, budaya global dan arus
informasi yang tanpa bebas.
Sifat dasar
sosiologi sebagai ilmu pengetahuan menurut R. Lawang (1989) adalah:
a) Empirik, berdasarkan pengamatan penalaran
b) Teoritik, hasil pengamatan yang tersusun dalam
bentuk proposisi-proposisi yang berhubungan secara logis,
c) Komulatif, teori sosiologi berkembang dari
teori yang ada melalui perbaikan,perluaasan dan penghalusan.
d) Non etik, tidak menanyakan apalah suatu
tindakan sosial itu baik atau tidak baik dari segi moral, sosiologi hanya
bermaksud menjelaskan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ilmu
pengetahuan dalam persfektif sosiologi menggunakan seperangkat asumsi yang
dapat digunakan sebagai dasar alat analisis (martono,2010) Permikiran itu juga
bertujuan untuk:
1.
Melihat manusia, bagaimana membedakan manusia dengan spesies yang lain,
2.
Melihat masyarakat, gambaran mengenai keistimewaan struktural yang muncul,
berkembang secara terus menerus dan mengalami perubahan sebagai konsekuensi
tindakan manusia dalam hubungannya dengan manusia yang lain,
3.
Melihat interaksi atau hubungan antara manusia dengan masyarakat,
4.
Melihat apa yang seharusnya diambil sebagai hal yang penting dan menjadi
faktor yang mendasar dalam perilaku manusia serta pengalaman dalam keteraturan
sosial.
5.
Melihat apa yang diketahui atau dipahami sebagai sesuatu hal yang menjadi
aspek penyelidikan kehidupan sosial.
6.
Melihat hubungan antara penjelasan akademis tentang kehidupan sosial dan
formulatif kbijakkan yang dapat digunakan secara langsung dalam kegiatan
anggota masyarakat setiap hari.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Idi ,
M,Ed., sosiologi pendidikan,
Jakarta:Raja Waki Pers, 2011.
Ahmadi, Abu. Sosiologi pendidikan, Jakarta , Rineka
Cipta. 1991.
Al Qur’an dan
Terjemahannya. Jakarta. lembaga percetakan Al
Qur’an Raja Fahd 1971.
Bukhari Umar, Hadits Tarbawi : pendidikan dalam perspektif
Hadits, Jakarta: Amzah, 2014.
Daradjat, Zakiyah. Ilmu pendidikan
iIslam. Jakarta: Departemen
Agama. 1992.
Kahmad, Dadang. Sosiologi Agama. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya. 2006.
Martono, Nanang. Kekerasan simbolik di
sekolah: sebuah ide sosiologi pendidikan Peierre Bourdieu. Jakarta :
RajaGrafindo Persada. 2012.
[4] Bukhari Umar, Hadits Tarbawi : pendidikan dalam perspektif
Hadits, (Jakarta: Amzah, 2014) hlm: 55.
