BAB II
PEMBAHASAN
MENGENAL HUKUM BACAAN QALQALAH,
SAKTAH, WAQAF DAN
IBTIDA’ DALAM TAJWID AL QUR’AN
A.
Pengertian Bacaan Qalqalah
Kata
qalqalah secara bahasa berasal dari bahasa Arab yang bermakna pantulan suara.
Dalam ilmu tajwid qalqalah berarti pantulan suara dari salah satu huruf
qalqalah yaitu, ب ج د ط ق (agar lebih mudah mengingatnya, kamu dapat
membacanya: Ba-Ju-Di-To-Ko). Jadi, jika salah satu huruf ini berharakat sukun,
maka cara membacanya dengan dipantulkan. Hukum bacaan qalqalah terdiri atas dua
jenis yaitu: qalqalah sugra- (kecil) dan qalqalah kubra- (besar).
Perbedaan
antara qalqalah sugra dan qalqalah kubra hanya pada letak hurufnya. Apabila
salah satu hurufnya terletak di tengah kata dan apabila hurufnya mati karena
sukun, maka itu adalah qalqalah sugra, dan jika hurufnya mati karena waqof /
diakhir kalimat, maka itu adalah bacaan qalqalah kubra.[1]
B.
Pengertian SAKTAH
Dalam ilmu
Tajwid terdapat istilah Saktah yang artinya berhenti sejenak dengan tanpa
menarik nafas baru. Saktah adalah berhenti sejenak tanpa
bernafas, dengan tujuan untuk meluruskan arti ayat. Di dalam mushkhaf rosmul
utsmani, ‘saktah’ ditandai dengan khuruf ‘SIN’ kecil pada ayat yang
mengandung ‘saktah’.
Menurut
Imam Hafs, saktah hanya ada di 4 tempat yaitu surat (18:1-2), (36:52), (75:27)
dan (83:14). Pada contoh di bawah ini, khuruf ‘SIN’ (sebagai tanda saktah)
terletak antara kata berwarna merah dan kata berwarna biru. Di antara kedua
kata itulah terjadi saktah.
Berikut
ini adalah ayat yang mengandung saktah
1. Surat
Al-Kahfi (18) antara ayat 1 dan 2:
3. Surat
Al-Qiyaamah ayat 27:
4. Surat
Al-Muthoffifiin ayat 14:
C. Waqaf dan Ibtida'
Perlu kita mengenal istilah-istilah terkait dengan membaca Al-Qur’an dan menghentikan bacaan sebagai berikut :
1) Iftitah [ اِفْتِتَاح ] adalah pembukaan dalam bacaan Al-Qur’an yang diawali dengan membaca isti’adzah, basmalah, lalu diteruskan dengan membaca ayat.
2) Waqaf [ وَقَفْ ] adalah menghentikan bacaan atau suara sejenak pada akhir suku kata untuk mengambil nafas dengan maksud kendak melanjutkan bacaan pada ayat berikutnya.
3) Ibtida’ [ اِبْتِدَاء ] adalah memulai bacaan kembali sesudah waqaf dari awal suku kata pada ayat berikutnya.
4) Qatha’ [ قَطَعْ ] adalah mengakhiri bacaan Al-Qur’an dengan memotong bacaan sama sekali. Dan apabila hendak membuka bacaan kembali sesudah melakukan qatha’, disunahkan membaca isti’adzah lagi.
Perhatian contoh berikut ini :
اَعُـوْذُ
بِاللهِ مِنَ الشَّـيْطَانِ الـرَّجِـيْمِ - بِسْـــمِ اللهِ الـرَّحْـمَنِ الـرَّحِـيْمِ
1.قُلْ
اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
2.
مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
3.
وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ
4
. وَمِنْ شَرِّالنَّـفَّاثَاتِ فِى الْعُقَدِ
5.
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ .
1. PEMBAGIAN
WAQAF
a) WAQAF
IKHTIBARI (menguji atau mencoba). Maksudnya adalah waqaf yang dilakukan untuk
menguji qari’ atau menjelaskan agar diketahui cara waqaf dan ibtida’ yang
sebenarnya. Waqaf ini dibolehkan hanya dalam proses belajar mengajar, yang
sebenarnya tidak boleh waqaf menurut kaidah ilmu tajwid.
b) WAQAF
IDHTHIRARI (terpaksa). Maksudnya adalah waqaf yang dilakukan dalam keadaan
terpaksa, mungkin karena kehabisan nafas, batuk atau bersin dan lain
sebagainya. Apabila terjadi waqaf ini, hendaklah mengulang dari kata tempat
berhenti atau kata sebelumya yang tidak merusak arti yang dimaksud oleh ayat.
c) WAQAF
INTIZHARI (menunggu). Maksudnya adalah waqaf yang dilakukan pada kata yang
diperselisihkan oleh ulama’ qiraat antara boleh dan tidak boleh waqaf. Untuk
menghormati perbedaan pendapat itu, sambil menunggu adanya kesepakatan,
sebaiknya waqaf pada kata itu, kemudian diulangi dari kata sebelumnya yang
tidak merusak arti yang dimaksud oleh ayat, dan diteruskan samapi tanda waqaf
berikuitnya. Dengan demikian terwakili dua pendapat yang berbeda itu.
d) WAQAF
IKHTIARI (pilihan). Maksudnya adalah waqaf yang dilakukan pada kata yang
dipilih, disengaja dan direncanakan, bukan karena ada sebab-sebab lain. Waqaf ikhtiari ada empat
1) WAQAF
TAM (sempurna). Maksudnya adalah waqaf pada akhir suku kata yang sudah
sempurna, baik menurut tata bahasa maupun arti. Pada umumnya terdapat pada
akhir ayat dan di akhir keterangan, cerita atau kisah. Dan tidak ada kaitannya
sama sekali dengan ayat berikutnya. Seperti waqaf pada الْمُفْلِحُوْنَ dalam
ayat berikut :
اُولئِكَ عَلَى هُدًى مِّنْ
رَّبِّهِمْ لا وَاُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ [ البقرة : 5]
Waqaf Tam bisa terjadi
sebelum habisnya ayat, seperti waqaf pada kata اَذِلَّةٍ dalam ayat :
قَالَتْ اِنَّ الْمُلُوْكَ
اِذَا دَخَلُوْا قَرْيَةً اَفْسَدُوْهَاوَجَعَلُوا اَعِزَّةَ اَهْلِهَا اَذِلَّةٍ وقف
وِكَذَالِكَ يَفْعَلُوْنَ [ النمل : 34 ]
- Waqaf Tam terkadang
terjadi pada pertengahan ayat, seperti waqaf pada kata اِذْ جَاءَ نِيْ dalam
ayat :
لَقَدْ اَضَلَّنِيْ عَنِ
الذِّكْرِ بَعْدَاِذْ جَاءَ نِيْ وقف وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلإِنْسَانِ خَذُوْلاً
[الفرقان :29]
- Dan waqaf Tam dapat
terjadi pula sesudah habis ayat tambah sedikit, seperti waqaf pada kata وَبِاللَّيْلِ
dalam ayat :
وَاِنَّكُمْ لَتَمُرُّوْنَ
عَلَيْهِمْ مُصْبِحِيْنَ☼ وَبِاللَّيْلْ وقف اَفَلاَ تَعْقِلُوْنَ [ الصفات : 137
- 138]
2) WAQAF
KAFI (cukup). Maksudnya adalah waqaf pada akhir suku kata yang menurut tata
bahasa sudah dianggap cukup, tetapi dari segi arti, cerita atau kisah masih ada
kaitannya dengan ayat berikutnya. Seperti waqaf pada ☼يُوْقِنُوْنَ dalam ayat
berikut :
وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ
بِمَا اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَا اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ج وَبِالأَخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ
☼ اُولئِكَ عَلَى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ لا وَاُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ☼ [ البقرة
: 4 – 5 ]
3) WAQAF
HASAN (baik). Maksudnya adalah waqaf pada akhir suku kata yang sudah dianggap
baik menurut tata bahasa, tetapi masih ada kaitan dengan ayat berikutnya, baik dari
segi arti maupun tata bahasa. Seperti waqaf pada ☼ الْعَالَمِـيْنَ dalam ayat
berikut : اَلْحَمْـدُ للهِ رَبِّ الْعَـالَمِـيْنَ☼ اَلرَّحْمـنِ الرَّحِيْـمِ ☼ مَـالِكِ
يَوْمِ الدِّيْنِ ☼
4) .WAQAF
QABIH (buruk). Maksudnya adalah waqaf pada akhir suku kata yang menurut tata
bahasa tergolong buruk dan bahkan merusak arti atau maksud dari makna ayat yang
sebenarnya. Seperti waqaf pada ☼ لِلْمُصَلِّيْنَ dalam ayat berikut :
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّيْنَ
☼ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلاَ تِهِمْ سَاهُوْنَ ☼
Waqaf pada ☼ لِلْمُصَلِّيْنَ
akan merusak arti atau maksud ayat. Maksud dari ayat adalah : “Neraka itu untuk
orang-orang yang melalaikan shalat” Ketika waqaf pada ☼ لِلْمُصَلِّيْنَ , maka
maksud ayat lalu berubah menjadi :
“Neraka itu untuk
orang-orang yang mengerjakan shalat"
2. CARA
BERWAQAF
Waqaf dalam membaca Al-Qur’an dapat dilakukan dengan
cara-cara sebagai berikut, yaitu :
·
Akhir suku kata dimatikan dalam bacaan
apabila berharakat fathah, kasrah, dhammah, kasratain atau dhammatain [ ـَ ـِ ـُ
ـٌ ـٍ ] Contoh : سَقَرْ☼ = سَقَرَ ☼ نُذُرْ ☼ = نُذُرِ ☼ اَحْسَنْ ☼ = اَحْسَنُ ☼
تَخَوُّفْ = ☼ تَخَوُّفٍ ☼ اَشِرْ ☼ = اَسِرٌ☼
·
. Akhir suku kata dimatikan [ ـْ ]dalam
bacaan apabila berharakat : Fathah, kasrah atau dammah yang sebelumnya ada Alif
[ا ـَ ـِ ـُ ] seperti : ☼ الْحِسَابَ ☼ الْحِسَابِ ☼ الْحِسَابُ dibaca ☼ الحِسَا
بْ
خَطَايَايْ dibaca ☼ خَطَايَايَ
☼ ـ اِيَّايْ dibaca ☼ اِيَّايَ☼
Fathah sebelumnya ada
Wa [ وْ ـَ ] seperti : ☼ يُنْصَرُوْنَ dibaca ☼ يُنْصَرُوْنْ
Fathah, kasrah atau
dhammah sebelumnya ada Ya’ mati,[يْ ـُ ـِ ـَ ] , seperti : ☼ اَلْحَلِيْمَ ☼ اَلْحَلِيْمِ
☼ اَلْحَلِيْمُ dibaca ☼ اَلْحَلِيْمْ
Dhammatain atau
kasratain sebelumnya ada Ya’mati, [يْ ـٌ ـٍ ] seperti : ☼ حَلِيْمٌ ☼ حَلِيْمٍ
dibaca ☼ حَلِيْمْ
Dhammatain atau
kasratain sebelumnya ada Waw mati [وْ ـٌ ـٍ ] seperti : ☼ غَفُوْرٌ ☼ غَفُوْرٍ
dibaca = ☼ غَفُوْرْ
·
Akhir suku kata berharakat fathatain dan
sesudahnya ada huruf Alif [ـً ا] dibaca fathah [ـَ ا], seperti : ☼حَكِيْمًا
dibaca = ☼ حَكِيْمَا
- atau akhir suku kata
terdiri dari huruf Hamzah berharakat fathatainn [ءً] dibaca fathah [ءَ] ,
seperti : ☼ مَاءً dibaca = ☼ مَائَا
- atau akhir suku kata
terdiri dari Alif maqshurah dan sebelumnya berharakat fathatain [ ـً ى ] dibaca
fathah [ ـَ ى], seperti : ☼ مُسَمًّى dibaca = ☼ مُسَمَّى
·
Akhir suku kata terdiri dari Ta’
Marbuthah [ ـة ـ ة ] dimatikan dan bunyinya berubah menjadi bunyi Ha’ [ ـهْ ـ هْ
] , seperti : حَامِيَهْ☼ dibaca = حَامِيَةٌ
☼ ـ بَرَرَهْ dibaca = ☼ بَرَرَةٍ ☼
·
Akhir suku kata yang terdiri dari huruf
Ha’ berharakat kasrah atau dhammah [ ـهِ ـ ـهُ ] dimatikan [ ـهْ ـ ـهْ ] ,
seperti : صَا حِبَتِهْ ☼ =dibaca صَاحِبَتِهِ ☼ـ رَسُوْلُهْ☼ dibaca = رَسُوْلَهُ☼
·
Akhir suku kata terdiri dari huruf Mad
atau huruf mati, dibaca apa adanya tanpa ada perubahan, seperti : ☼ اَقْفَالُهَا
tetap dibaca ☼ اَقْفَالُهَا - ☼ جَنَّاتِيْ tetap dibaca ☼ جَنَّاتِيْ ☼ فَسَقُوْا
tetap dibaca ☼ فَسَقُوْا - ☼ لَيَطْغَى tetap dibaca ☼ لَيَطْغَى ☼ عَلَيْهِمْ
tetap dibaca ☼ عَلَيْهِمْ - ☼ يُوْلَدْ tetap dibaca ☼ يُوْلَدْ
·
Akhir suku kata terdiri dari huruf
hidup, sedangkan sebelumnya terdapat huruf mati seperti dalam kurung [ ـْ ـَ / ـْ
ـِ / ـْ ـُ ]maka huruf akhir suku kata itu dimaitkan seperti dalam kurung [ ـْ ـْ
/ ـْ ـْ / ـْ ـْ ] sehingga ada dua huruf mati. Cara mewaqafkan, cukup sekedar
bunyi akhir suku kata itu didengar sendiri atau oleh orang yang berdekatan
sebagai isyarat bahwa ada huruf mati, sehingga waqaf seperti ini disebut “waqaf
isyarat”. Contoh : وَالْعَصْرْ☼ dibaca وَالْعَصْرِ ☼ ـ وَالأَمْـرْ☼ dibaca وَالأَمْـرُ☼
·
Akhir suku kata bertasydid dimatikan
tanpa menghilangkan fungsi tasydidnya, seperti : ☼ مِنْـهُنَّ dibaca ☼ ـ مِنْـهُنّْ
☼خلَقَهُنَّ dibaca ☼ خَلَقَهُنّْ
·
Hamzah di akhir kata yang ditulis di
atas waw [ ؤ ] dimatikan bila waqaf, dan dibaca pendek bila washal, seperti : - يَـتَـفَـيَّـؤُا bila Waqaf ☼ Tulisan QS.An-Nahl [16]
: 48 - يَـتَـفَـيَّـأْ - dan bila Washal dibaca يَـتَـفَـيَـؤُا ظِلاَلُهُ - يَـعْـبَــؤُا bila Waqaf dibaca ☼ Tulisan QS.Al-Furqan
[26] : 77 - يَـعْـبَـأْ - dan bila Washal dibaca يَـعْـبَـؤُا بِـكُمْ Demikian pula dalam QS.Yusuf [12] : 84 تَـفْـتَـؤُا
, - dalam QS. Thaha يَـدْرَؤُا [20] : 18 اَتَـوَكَّـؤُا
,- dan dalam QS. An-Nur [24] : 8
·
Hamzah di akhir kata yang ditulis di
atas waw [ ؤ ] bila waqaf dimatikan sesudah membaca panjang huruf sebelumnya,
dan bila washal hamzah dibaca pendek seperti : Tulisan - عُـلَـمـؤُا bila Waqaf
dibaca QS.
Asy-Syu'araa' : [26} :197 - ☼عُـلَـمَـاءْ - dan bila Washal dibaca عُـلَـمـؤُا بَنِيْ
اِسْرَائِيْلَ Demikian pula dalam
QS.Fathir [35] : 28 عُـلَـمـؤُا ,- QS. Ibrahim : الضُّـعَـفـؤُا ,- QS.Yunus [10] : [14] : 21 ,- dan
Al-Mu’min [40] : 47 شُـفَـعــؤُا شُـرَكـؤُا ,- QS.Ar-Ruum [30] :13 28
D.
TANDA-TANDA WAQAF
ü م
WAQAF LAZIM [وَقَفْ لاَزِمْ] Tanda mesti berhenti.
ü لا LA WAQFA [ لاَ وَقْفَ ] Tanda tidak boleh
berhenti.
ü ط WAQAF MUTHLAQ [ وَقَفْ مُطْلَقْ ] Tanda
sempurna berhenti.
ü ج WAQAF JAIZ [ وَقَفْ جَائِزْ ] Tanda boleh
berhenti dan boleh terus.
ü ز WAQAF MUJAWWAZ [ مُجَوَّزْ ]Tanda boleh berhenti,
terus lebih baik.
ü ص WAQAF MURAKH-KHASH [ وَقَفْ مُرَخَّصْ ] Tanda
diringankan (di bolehkan) berhenti karena mempunyai nafas pendek, terus lebih
baik.
ü قف WAQAF MUSTAHAB [وَقَفْ مُسْتَحَبْ ]. Tanda
berhenti lebih baik, tidak salah kalau terus.
ü .
قلى WAQAF AULA [وَقَفْ اَوْلَى]. Tanda berhenti lebih baik.
ü ق QILA WAQAF [ قِيْلَ وَقَفْ ] Sebagian pendapat,
tanda boleh berhenti.
ü .
صلى WASHAL AULA [وَصَلْ اَوْلَى] Tanda terus lebih baik.
ü .ك
Kadza lika Muthabiq lima qablahu [كَذَالِكَ مُطَابِقٌ لِمَا قَبْلَهُ ]Tanda
berhenti seperti tanda waqaf sebelumnya.
ü … ___… WAQAF MU’ANAQAH [ وَقَفْ مُعَانَقَةِ
]Tanda boleh berhenti pada salah satu titik tiga.
ü س/سكت SAKTAH [ سَكْتَةْ ]Tanda berhenti
sejenak tanpa ambil nafas.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar