Minggu, 01 Maret 2015

MAKALAH ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI



MAKALAH

ILMU  PENGETAHUAN DALAM PERSFEKTIF SOSIOLOGI


Di Ajukan  Untuk  Memenuhi  Tugas  Semester V (Lima)
 Mata Kuliah Sosiologi Pedidikan

Dosen Pembimbing
Mahmud Berutu, M.Pd

Disusun Oleh :

SUMMA WARDAYA MUSI
RISKA SAPTIYAH
RONI EFRIKA
REDA WATI
ABDUL RAHMAN

Kelompok : IV


 









Jurusan : Pendidikan Agama Islam

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
SYEKH ABDUR RAUF
(STAISAR)
ACEH SINGKIL
2014/2015



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada dasarnya sosiologi pendidikan merupakan cabang ilmu sosiologi atau yang dikategorikan sebagai sosiologi mikro. Sebagai ilmu sosial yang mempelajari hubungan pendidikan dengan masyarakat, sosiologi pendidikan pun sebagai mana ilmu pengetahuan lainnya, dipandang memiliki konstribusi signifikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan.[1] Pendidikan membutuhkan ilmu pengetahuan sosial yang akan membantu dalam perkembangan dan kemampuan dari peserta didik dan juga menuju kedalam tujuan pendidikan itu sendiri.
Pendidikan sosial adalah proses pembinaan kesadaran sosial, sikap sosial dan keterampilan sosial agar anak hidup baik serta wajar di tengah-tengah lingkungan masyratakatnya. Pendidikan berperan penting dalam mennetukan posisi sebuah bangsa di tengah  era globalisasi saat ini. Pendidikan yang berkualitas menjadi kunci peningkatan kualitas sumber daya manusia yang akan menghantarkan suatu bangsa pada kemajuan. Peningkatan kualitas pendiidkan perlu diupayakan agar tidak semakin tertinggal. Maka, peningkatan mutu pendidikan perlu diyinjau dari berbagai aspek demi tercapainya sistem pendidikan yang efektif dan berkualitas. Salah satu perspektif yang perlu diperhatikan dalam rangka menciptakan sistem pendidikan yang ideal dan sesuai dengan karakter bangsa adalah perspektif sosiologi.

B.     Rumusan Masalah
Untuk mempermudah menyelesaikan makalh ini penulis telah menyusun beberapa rumusan masalah yang diantaranya adalah:
1.      Bagaimanakah perspektif pendidikan dalam sosiologi?
2.      Apa sajakah fungsi sosiologi dalam ilmu pengetahuan?
3.      Bagaimanakah landasan yang harus dikembangkan untuk sosiologi pendidikan!

C.    Tujuan Pembahasan
1.      Untuk mengetahui bagaimana persfektif ilmu pengetahuan dalam sosiologi pendidikan;
2.      Untuk mengetahui fungsi apa saja yang dapat di hasilkan dalam ilmu pendidikan;
3.      Mengetahui apa saja yang menjadi landasan ilmu pengetahuan dalam sosiologi .














BAB II
PEMBAHASAN
ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI

A.    Ilmu pengetahuan dalam sosiologi
Sosiologi merupakan cabang ilmu sosial yang mengkaji hubungan antara manusia dengan sesamanya dalam masyarakat. Analisis sosiologi meliputi proses interaksi sosial yang terkait dengan kehidupan sosio-kultur masyrakat maupun pada tingkat nasional.
Dalam pendidikan sosial banyak yang harus dipahami dan dimengerti agar untuk kelangsungan hidup yang baik menuju kerukunan dan keridhan Allah SWT. sebagaimana dalam firman-Nya surat Ali-‘Imran : 114:
يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلۡخَيۡرَٲتِ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ
Artinya: “ mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar dan bersegeralah kepada (mengerjakan) berbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.[2]

Maksud ayat diatas adalah ditujukan untuk orang yang bukan Islam, namun dapat diambil pelajaran / pendidikan bagi seorang muslim. Dalam hidup ini bukan hanya orang Islam yang wajib melkukan kebaikan namun para ahli kitab yang berpegang teguh pada kebenaran, menegakkan keadilan, bersujud dimalam hari, mereka juga beriman kepada Allah. Memerintahkan yang baik dan menjauhi yang buruk[3]
Sehubungan dengan sosial pendidikan terdapat beberappa hadits yang dapat dijelaskan yaitu:
Dari Abu Musa, Nabi Saw. bersabda,”sesungguhnya seorang mukmin bagi mukmin yang lain laksana satu bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” Beliau pun masukkan jari-jari tangannya satu sama lain. (HR. Al – Bukhari)[4]

Pendidikan dalam perspektif sosiologi dapat menghasilkan sebuah gambaran objektif tentang relasi-relasi sosial yang menyusun kontruksi total relaitas pendidikan di negri ini. Maka, segala bentuk wawasan dan pengetahuan sosiologi untuk membedah tubuh penddikan menjadi perlu untuk dibahas agar proses-proses pengajaran tidak bisa kearah yang kurang relevan dengan kebutuhan bangsa.
Untuk mengetahui sesuatu dimasyarakat sebaiknya dimulai dengan membuat asumsi tentang sifat-sifat objek yang akan dipelajari. Asumsi ini disebut persfektif atau paradigma, yaitu suatu cara pandang atau cara memahami gejala tertentu menurut keyakinan masing-masing di dalam sosiologi terdapt beberapa persfektif , yaitu sebagi berikut:

1.      Perspektif interaksionis
Memusatkan perhatian terhadap interaksi antara individu dengan kelompok, terutama dengan menggunakan sibol-simbol antara lain isyarat, dan kata—kata baik lisan maupun tulisan.

2.      Perspektif evolusionis
Paradigma utama dalam sosiologi yang memusatkan perhatian pada pola perubahan dan perkembangan yang muncul dalam masyarakat yang  berbeda untuk megetahui urutan umum yang ada.
3.      Perspektif fungsional
Malihat masyarakat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerja sama secara terorganisir da memliki seperangkat aturan dan nilai kelompok atau lambaga yang melaksanakan tugas tertentu secara terus menerus sesuai dengan fungsinya yang dianut oleh sebagian besar anggotanya. Masyarakat dipandang sebagai sesuatu yang stabil dengan kecendrungan ke arah keseimbangan, yaitu untuk mempertahankan sistem kerja yang selaras dan seimbang.
4.      Perspektif konflik
Memandang adanya pertentangan antar kelas dan eksloitasi kelas di dalam masyarakat sebagai penggerak utama kekuatan-kekuatan dalam sejarah.
خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَـٰهِلِينَ
Jadilah engkau pemaaf dan serukanlah orang-orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang – orang  bodoh.”(Q.S. Al- A;raf: 199)[5]

Dapat kita ambil kesimpulan dalam ayat diatas yaitu tentang akhlak yang baik, yang menjadi dasar bagi seorang muslim untuk bersikap dalam lingkungan sehari-hari baik dalam keluarga ataupun masyarakat.

Ilmu pengetahuan dibagi atas dua kelompok besar, yakni kelompok ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan kelompok ilmu-ilmu alam secara khusus mempelajari fenomena fisik, meliputi anatraa fisika, kimia , biologi, astronomi, dan geologi. Sedangkan ilmu-ilmu sosial mempelajari fenomena non fidik yakni segala sesuatu yang berhubungan dengan perilku manusia.

Manusia adalah makhluk sosial, ia tidak mampu hidup sendiri. Dalam berbagai hal, manusia membutuhkan bantuan orang lain. Oleh sebabitu, manusia harus hidup secara sosial. Ia yidak boleh mementigkan diri sendiri. Untuk itu Rasulullah  mendidik umatnya agar menjadi makhluk sosial dengan metode ganjaran atau inovasi yang besar, sebagai mana dalam sabdanya:
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “ siapa yang melapangkan seorang mukmin dari satu kesulitan dunia, Allah akan melapangkaannya dari kesulitan hari kiamat. Siapa yang memudahkan dari satu kesulitan, Allah akan memudahkannya dari kesulitan didunia dan diakhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim, Allah akan menutup aibnya didunia dan diakhirat. Allah selalu menolong hamba_Nya selama hambanya itu menolong saudaranya.”(HR. Muslim)[6]

Sosiologi Emile Durkheim memandang pendiidikan sebagai “social thing” atau disebut dengan ikhtiar sosial. Menurut Durkheim, masyarakat secara keseluruhan beserta masing-masing lingkungan sosial di dalamnya merupakan sumber cita-cita ynag dilaksanakan lembaga pendidikan. Suatu masyarakat bisa bertahan hidup hanya kalau terdapat tingkat homogenitas yang memadai dikalangan warganya.  
Keseragaman esensial yang dituntut dalam kehidupan bersama tersebut oleh upaya pendidikan diperkenalkan dan doperkuat penanamannya sejak dini dikalangan anak-anak. Tetapi, di balik itu, suatu kerjasama apapun tentunya tidak mungkin tanpa adanya keanekaragaman. Keanekaragaman yang penting tersebut, oelh pendidikan dijamin dengan pelaksanaan pendidikan yang beranekaragam, baik dalam jenjang maupun spesialisnya.

Berawal dari pandangannya bahwa pendidikan sebagai “sosial thing”, Durkheim mengungkapkan bahwa pendidikan itu bukanlah suatu bentuk dalam arti ideal maupun akyualnya, tetapi bermacam-macam. Seberapa banyak macam yang dimaksud mengikuti banyaknya perbedaan lingkungan di kalangan masyarakat itu sendiri. Dengan demikian akan mennetukan tipe-tipe pendidikan yang diselenggarakan.

Pendidikan merupakan alat untuk mengembangkan kesadran diri sendiri dan kesadaran sosial  menjadi paduan yang stabil, disiplin, dan utuh secara bermakna. Penyelaman dan pencernaan nilai-nilai dan disiplin oleh Durkheim dianggap sebagai syarat inisiasi anak terhadap masyarakat. Pendidikan beperan penting dalam menjada nilai=nilai moral yang menjadi landansan bagi tumbuh kembang masyarakat.

Sasaran pendidikan adalah mengembangkan kekuatan fisik, intelektual, dan moral yang dibutuhkan oleh lingkungan masyarakat. Pendidikan dipersepsikan oleh Durkhein sebagai satu kesatuan utuh dari masyarakat dari keseluruhan. Pendidikan sebagai daasar masyarakat menentukan proses alikasi dan distribusi sumber-sumber perubahan. Pendidikan juga berfungsi sebgai “baby sitting” yang bertugas agar warga masyarakat tidak ada yang memiliki perilaku menyimpang. Untuk mengemas pendidikan agar menjalankan fungsi tadi harus diterapkan orioritas yang tepat. Pendidkan harus bisa memaksimalkan bakat siswa. Pendidikan juga harus didekatkan pada msyarakat luas.

B.     Fungsi Pendidikan Dalam Perspektif Sosiologi
Pendidikan memiliki fungsi yang dapat dipahami dalam soiologi hubungan masyarakat, yaitu:
1.      Memperkuat solidaritas sosial; membuat individu merasa menjadi bagian dari kelompok dan dengan demikian akan mengurangi kecendrungan untuk melanggar aturan.
2.      Mempertahankan peranan sosial; sekolah adalah masyarakat dalam bentuk miniature. Sekolah mempunyai hierarki, aturan, tuntutan, yang sama dengan “dunia luar”. Sekolah mendidik orang muda memenuhi derbagai peranan.
3.      Mempertahankan pembagian kerja; membagi-bagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecakapan. Lengajar siswa untuk mencari pekerjaan sesuai dengan kecakapan mereeka.

Perspektif sosiologi sebagai pisau bedah dalam menganalisa pendidikan sangat bermanfaat bagi perbaikan berbagai permasalahan pendidikan yang kini menjadi tantangan besar bangsa Indonesia. Kajian dan analisis terhadap keterkaitan fenomena sosial dalam proses pendidikan penting untuk diketahui, di informasikan dan digunakan dalam pengambilan keputusan, kebijakan maupun stategi dalam praktik pendidikan terkait dengan fungsi sosiologi pendidikan yaitu menyediakan visi, pemahaman dan kemampuan terhadap proses pendidikan, dan kemampuan bekerja dalam pendidikan dengan memanfaatkan dinamika struktural dan proses sosial terkait dengan proses pendidikan, dikarenakan kehidupan sosial baik dalam yang besar terhadap proses dan hasil –hasil pendidikan.
C.    Landasan Konsep Dan Teori Sosial Dalam Pendidikan
Pengembangan pendiidkan seharusnya dilandasi konsep dan teori sosial, karena untuk dapat meliaht  perkembangan sosial pendidikan. Alasannya:
1.      Pendidikan mau tidak mau harus bisa menyiapkan sebuah generasi yang siap memasuki masyarakat yang berubah menuju masyarkat berbasisi pengetahuan.
2.      Pratisi pendidikan dapat merumuskan cara menetapkan orientasi yang relevan dengan dunia yang berubah di satu puhak,  namun dilain pihak dunia pendidikan tidak mengalami distorsi dan disorientasi.
3.      Pendidikan memerlukan perangkat pisau analisa sosiologi, karena ia bukan sekedar mesin atau teknologi pembelajaran ansich.

Dengan bantuan perspektif sosiologis, sekolah dan guru akan dapat memahami lingkungan sosial, proses-proses sosial seperti terjadiny akonflik, integrasi, pelapisan dan proses sosialisasi. Sosiologi akan membantu menungkatkan kepekaan budaya sehingga memungkinkan praktisi pendidikan mampu mengelola pembelajaran berbasis multukultural, melakukan antisipasi terhadap dampak, budaya global dan arus informasi yang tanpa bebas.
Sifat dasar sosiologi sebagai ilmu pengetahuan menurut R. Lawang (1989) adalah:
a)      Empirik, berdasarkan pengamatan penalaran
b)      Teoritik, hasil pengamatan yang tersusun dalam bentuk proposisi-proposisi yang berhubungan secara logis,
c)      Komulatif, teori sosiologi berkembang dari teori yang ada melalui perbaikan,perluaasan dan penghalusan.
d)     Non etik, tidak menanyakan apalah suatu tindakan sosial itu baik atau tidak baik dari segi moral, sosiologi hanya bermaksud menjelaskan.



















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Ilmu pengetahuan dalam persfektif sosiologi menggunakan seperangkat asumsi yang dapat digunakan sebagai dasar alat analisis (martono,2010) Permikiran itu juga bertujuan untuk:
1.      Melihat manusia, bagaimana membedakan manusia dengan spesies yang lain,
2.      Melihat masyarakat, gambaran mengenai keistimewaan struktural yang muncul, berkembang secara terus menerus dan mengalami perubahan sebagai konsekuensi tindakan manusia dalam hubungannya dengan manusia yang lain,
3.      Melihat interaksi atau hubungan antara manusia dengan masyarakat,
4.      Melihat apa yang seharusnya diambil sebagai hal yang penting dan menjadi faktor yang mendasar dalam perilaku manusia serta pengalaman dalam keteraturan sosial.
5.      Melihat apa yang diketahui atau dipahami sebagai sesuatu hal yang menjadi aspek penyelidikan kehidupan sosial.
6.      Melihat hubungan antara penjelasan akademis tentang kehidupan sosial dan formulatif kbijakkan yang dapat digunakan secara langsung dalam kegiatan anggota masyarakat setiap hari.










DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Idi , M,Ed., sosiologi pendidikan,  Jakarta:Raja Waki Pers, 2011.
Ahmadi, Abu.  Sosiologi pendidikan, Jakarta , Rineka Cipta. 1991.
Al Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta. lembaga percetakan Al Qur’an Raja Fahd 1971.
Bukhari Umar,  Hadits Tarbawi : pendidikan dalam perspektif Hadits, Jakarta: Amzah, 2014.
Daradjat, Zakiyah. Ilmu pendidikan iIslam.  Jakarta: Departemen Agama. 1992.
Kahmad, Dadang.  Sosiologi Agama.  Bandung:PT. Remaja Rosdakarya. 2006.
Martono, Nanang. Kekerasan simbolik di sekolah: sebuah ide sosiologi pendidikan Peierre Bourdieu. Jakarta : RajaGrafindo Persada. 2012.












[1] Prof. Dr. Abdullah Idi , M,Ed., sosiologi pendidikan, (Jakarta:Raja Waki Pers, 2011), hlm:33.
[2] Al Qur’an dan Terjemahannya.( Jakarta. lembaga percetakan Al Qur’an Raja Fahd 1971. Hal: 94
[3] Abuddin Nata, MA. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan,... hal: 176
[4] Bukhari Umar,  Hadits Tarbawi : pendidikan dalam perspektif Hadits, (Jakarta: Amzah, 2014) hlm: 55.
[5] Q.S. Al- A;raf: 199. Al Qur’an dan Terjemahannya. ... hal:225
[6] Bukhari Umar,  Hadits Tarbawi : pendidikan dalam perspektif Hadits,...hlm: 56.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar